My Photo

Categories

June 2006

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30  

Main | January 2006 »

December 28, 2005

Petruk Know and Ratu Understand


Pernah dengar cerita petruk jadi ratu ??..
Kalo pernah, berarti tahu dong gimana hasilnya negara saat petruk memimpin ???
Lha itu sekarang terjadi di Indonesia...saat petruk-petruk bertebaran di bumi Indonesia tercinta ini menjadi ratu-ratu di kadipaten-kadipaten maupun songgosuloyo.....ihik...ihik.....(songgosuloyo=BUMN..:p)

tapi sudahlah..
memang itu sudah terjadi mau diapakan lagi...
berarti saat ini bagi yang merasa bukan petruk wajib bersiap sedia menggantikan para petruk itu untuk suatu saat menjadi ratu....yach..minimal 2 generasi lagilah....

Tapi yang ingin diungkapkan disini bukanlah soal negaranya...
tapi petruknya.
sang waton suloyo sejati..
tau waton suloyo khan ??seenak udel dia sendiri...
perintah sana-perintah sini...petruk memang serba tahu.
Makanya dia selalu berani kasih perintah saat jadi ratu.

Sayangnya otak petruk yang serba tahu itu buka syarat jadi Ratu....
Ratu itu selain harus Know, juga harus Understand. Tidak cukup hanya Know saja...

Ibaratnya begini...
Tangan Petruk kena tele' ayam..Dia tahu itu bau...tapi tetep aja dicium untuk memastikan bahwa itu bau...:)...hwakaradahhhhh......

Dasar Petruk....
Orang pintar kemaken yo ngono kuwi......
waton suloyo sa dunyo...sa jagat.....
*****
Untungnya Dunia terselamatkan saat petruk turun tahta...
sehingga tidak terjadi kehancuran lebih besar lagi...
Tetapi petruk turun tahta pun juga dengan khimat...
Petruk dikembalikan ke posisinya semula sebagai penghibur...
karena kadang penghibur adalah orang-orang yang Know tetapi tidak harus Understand...:))

Salam Tabik

Jarod
CakrawalaDiSisiku

December 27, 2005

Ketika GusMus "bertanya" pada Hadlratussyeikh

Ketika Gus Dur menulis wawancara imajiner tentang Dr. Nurcholish Madjid di majalah Editor, dia memulai dengan ungkapan guyon cerdasnya: “Kalau dulu Christianto Wibisono mewawancarai Bung Karno secara imajiner, tidak berarti hak melakukan wawancara jenis itu menjadi monopolinya.

Seandainya ia bisa menunjukkan hak paten tertulis sekalipun, baik dari lembaga domestik ataupun internasional, saya tetap saja dapat melakukan wawancara imajiner tentang Dr. Nurcholish Madjid. Sebabnya? Karena Christianto menjadikan tokoh yang diwawancarai itu sumber berita. Sedang saya justru mencari sumber itu di luar si tokoh.”Ungkapan yang sama bisa saya kemukakan sekarang ini untuk mengawali tulisan latah saya ini.

Seandainya Christianto maupun Gus Dur bisa menunjukkan hak paten tertulis sekalipun, baik dari lembaga domestik ataupun internasional, saya tetap saja dapat melakukan wawancara imajiner dengan Hadlratussyeikh. Sebabnya? Karena Christianto menjadikan tokoh yang diwawancarai itu sumber berita dan Gus Dur mencari sumber itu di luar si tokoh. Sedang saya hanya sekedar ingin “berkangen-kangenan” secara imajiner dengan tokoh saya. Ungkapan saya berkangen-kangenan mungkin kurang tepat, meskipun sekedar imajiner; karenanya saya beri tanda kutip. Soalnya yang kangen hanya saya dan saya tidak menangi tokoh yang saya kangeni itu. Dari apa yang saya dengar tentang Hadlratussyeikh dan rekaman-rekaman buah pikiran beliau yang berhasil saya kumpulkan sampai saat ini, saya memperoleh gambaran yang demikian jelas mengenai Bapak NU ini; sehingga saya merasa seolah-olah saya menangi beliau.

Dan ketika saya, baru-baru ini, dihadiahi Kiai Muchit Muzadi copi kitab susunan Sayyid Muhammad Asad Syihab (cetakan Bairut) berjudul “Al’allaamah Muhammad Hasyim Asy’ari Waadli’u Labinati Istiqlaali Indonesia” (Mahakiai Muhammad Hasyim Asy’ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia) dan dua kopi khotbah Hadlratussyeikh, kangen saya pun menjadi-jadi. Keinginan untuk melakukan wawancara imajiner dengan beliau pun tak bisa saya empet.

Tiba-tiba saja saya sudah berada dalam majlis yang luar biasa itu. Suatu halaqah raksasa yang menebarkan wibawa bukan main mendebarkan. Kalau saja tidak karena senyum-senyum lembut yang memancar dari wajah-wajah jernih sekalian yang hadir, niscaya tak akan tahan saya duduk di majlis ini.

Mereka yang duduk berhalaqah dengan anggun di sekeliling saya itu tampak bagaikan sekelompok gunung yang memberikan rasa teduh dan damai. Sehingga rasa ngeri dan gelisah saya berkurang karenanya.

Begitu banyak wajah –ratusan atau bahkan ribuan- memancarkan cahaya, menyinari majlis. Ada yang sudah saya kenal secara langsung atau melalui foto dan cerita-cerita, ada yang sebelumnya hanya saya kenal namanya, dan masih banyak lagi yang namanya pun tak saya ketahui. Itu tentu Kiai Abdul Wahab Hasbullah! Wajahnya yang kecil masih tetap berseri-seri menyembunyikan kekuatan yang tak terhingga.

Duduk di sampingnya, Kiai Bishri Syansuri, Kiai Raden Asnawi Kudus, Kiai Nawawi Pasuruan, Kiai Ridwan Semarang, Kiai Maksum Lasem, Kiai Nahrowi Malang, Kiai Ndoro Munthah Bangkalan, Kiai Abdul Hamid Faqih Gresik, Kiai Abdul Halim Cirebon, Kiai Ridwan Abdullah, Kiai Mas Alwi, dan Kiai Abdullah Ubaid dari Surabaya. Yang pakai torbus tinggi itu tentu Syeikh Ahmad Ghanaim Al-Misri dan yang di sampingnya itu Syeikh Abdul ‘Alim Ash-Shiddiqi. O, itu Kiai Saleh Darat, Kiai Subeki Parakan, Kiai Abbas Buntet, Kiai Ma’ruf Kediri, Kiai Baidlowi Lasem, Kiai Dalhar Magelang, Kiai Amir Pekalongan, Kiai Mandur Temanggung.

Yang asyik berbisik-bisik itu pastilah Kiai Abdul Wahid Hasyim dan Kiai Machfudz Shiddiq, Kiai Dahlan dan Kiai Ilyas. Saya melihat juga Kiai Sulaiman Kurdi Kalimantan, Sayyid Abdullah Gathmyr Palembang, Sayyid Ahmad Al-Habsyi Bogor, Kiai Djunaidi dan Kiai Marzuki Jakarta, Kiai Raden Adnan dan Kiai Masyhud Sala, Kiai Mustain Tuban, Kiai Hambali dan Kiai Abdul Jalil Kudus, Kiai Yasin Banten, Kiai Manab kediri, Kiai Munawir Jogja, Kiai Dimyati Termas, Kiai Cholil Lasem, Kiai Cholil Rembang, Kiai Saleh Tayu, Kiai Machfud Sedan, Kiai Zuhdi Pekalongan, Kiai Maksum Seblak, Kiai Abubakar Palembang, Kiai Dimyati Pemalang, Kiai Fakihuddin Sekarputih, Kiai Abdul Latief Cibeber, Haji Hasan Gipo, Haji Raden Mochtar Banyumas, Kiai Said dan Kiai Anwar Surabaya, Kiai Muhammadun Kajen, Kiai Muhammadun Pondohan, Kiai Siradj Payaman, Kiai Chudlari Tegalrejo, Kiai Abdul Hamid Pasuruan, Kiai Badruddin Honggowongso Salatiga, Kiai Machrus Ali Lirboyo, Kiai, Kiai …

Dan di tengah-tengah lautan Kiai dan tokoh NU itu Hadlratussyeikh bersila dengan agung, dengan wajah sareh yang senantiasa tersenyum. Namun, betapa pun jernih wajah-wajah mereka, saya masih melihat sebersit keprihatinan yang getir. Karenanya pertanyaan pertama yang saya ajukan –setelah berhasil mengatasi rasa rendah diri yang luar biasa- adalah: Hadlratussyeikh, saya lihat Hadlratussyeikh dan sekalian masyayeikh yang ada di sini begitu murung. Bahkan di kedua mata Hadlratussyeikh yang teduh, saya melihat airmata yang menggenang. Apakah dalam keadaan yang damai dan bahagia begini, masih ada sesuatu yang membuat Hadlratussyeikh dan sekalian masyayeikh berprihatin? Apakah gerangan yang diprihatinkan?”

Hampir serempak, Hadlratussyeikh dan sekalian masyayeikh tersenyum. Senyum yang sulit saya ketahui maknanya. Tampak Kiai Abdul Wahab Hasbullah sudah akan menjawab pertanyaan saya, tapi buru-buru Hadlratussyeikh memberi isyarat dengan lembut. Ditatapnya saya dengan senyum yang masih tersungging, seolah-olah beliau hendak membantu mengikis kegelisahan saya akibat wibawa yang mengepung dari segala jurusan. Baru kemudian beliau berkata dengan suara lunak namun jelas: “Cucuku, kau benar. Kami semua di sini, Alhamdulillah hidup dalam keadaan damai dan bahagia. Seperti yang kau lihat, kami tak kurang suatu apa. Kalaupun ada yang memprihatinkan kami, itu justru keadaan kalian. Kami selalu mengikuti terus apa yang kamu lakukan dengan dan dalam jam’iyah yang dulu kami dirikan. Kami sebenarnya berharap, setelah kami, jam’iyah ini akan semakin kompak dan kokoh. Semakin berkembang. Semakin bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Semakin mendekati cita-citanya. Untuk itu kami telah meninggali bekal yang cukup. Ilmu yang lumayan, garis yang jelas dan tuntunan yang gamblang.”

“Jam’iyah ini dulu kami dirikan untuk mempersatukan ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah dan para pengikutnya; tidak saja dalam rangka memelihara, melestarikan, mengembangkan, dan mengamalkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, tapi juga bagi khidmah kepada bangsa, negara dan umat manusia.”

“Sebenarnya kami sudah bersyukur bahwa khitthah kami telah berhasil dirumuskan secara jelas dan rinci; sehingga generasi yang datang belakangan tidak kehilangan jejak para pendahulunya. Sehingga langkah-langkah perjuangan semakin mantap. Tapi kenapa rumusan itu tidak dipelajari dan dihayati secara cermat untuk diamalkan? Kenapa kemudian malah banyak warga Jam’iyah yang kaget, bahkan seperti lepas kendali? Satu dengan yang lain saling bertengkar dan saling cerca. Tidak cukup sekedar berbeda pendapat (ikhtilaaf), tapi sudah ada yang saling membenci (tabaaghudl), saling mendengki (tahaasud), saling ungkur-ungkuran (tadaabur), bahkan saling memutuskan hubungan (taqaathu’). Padahal mereka, satu dengan yang lain, bersaudara. Sebangsa. Setanahair. Seagama. Seahlissunnahwaljama’ah. Sejam’iyah.”

Laa haula walaa quwwata illa billah…” gumam semua yang hadir serempak, membuat tunduk saya semakin dalam. Dan saya merasakan berpasang-pasang mata menghunjam ke diri saya bagai pisau-pisau yang panas. Sementara Hadlratussyeikh melanjutkan masih dalam nada yang sareh, penuh kebapakan: Yang pada bertikai itu; sebenarnya masing-masing sedang membela kemuliaan apa? Mempertahankan prinsip Islami apa? Sehingga begitu ringan mereka mengorbankan persaudaraan yang agung?”

“Sejak awal saya sudah memperingatkan, baik dalam mukaddimah Al-Qaanun Al-Asasi maupun di banyak kesempatan yang lain, akan bahayanya perpecahan dan pentingnya menjaga persatuan. Dengan perpecahan tak ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan baik. Sebaliknya dengan persatuan, tantangan yang bagaimana pun beratnya, Insya Allah, akan dapat diatasi.”

“Perbedaan pendapat mungkin dapat meluaskan wawasan, tapi tabaaghuudl, tahaasud, tadaabur dan taqaathu’ –apapun alasannya- hanya membuahkan kerugian yang besar dan dilarang oleh agama kita.” “Kalau di dalam organisasi, tabaaghudl, tahaasud, tadaabur dan taqaathu’ itu merupakan malapetaka; maka apa pula namanya jika itu terjadi dalam tubuh organisasi ulama dan para pengikutnya?”

Hadlratussyeikh menarik napas panjang, diikuti secara serentak oleh ribuan gunung kiai. Suatu tarikan napas yang disusul gemuruh dzikir dalam nada keluhan:Laa haula walaa quwwata illa billah…

Saya sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kepada Hadlratussyeikh bahwa warga jam’iyah baik-baik saja –kalaupun ada sedikit ketegangan itu wajar, kini sudah membaik- tak ada yang perlu diprihatinkan, ketika tiba-tiba beliau berkata:

“Kau tidak perlu menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya. Kami tahu semua. Mungkin keadaan yang sebenarnya tidak separah yang tampak oleh kami, namun yang tampak itu saja sudah cukup membuat kami prihatin. Kami ingin khidmah dan yang dilakukan jam’iyah ini sebanding dengan kebesarannya,”

“Lalu apa nasehat Hadlratussyeikh?” Pertanyaan ini meluncur begitu saja tanpa saya sadari. “Nasehatku; lebih mendekatlah kepada Allah. Bacalah lagi lebih cermat Mukaddimah Al-Qaanuun Al Asasi dan Khitthah Jam’iyah. Fahami dan hayati maknanya, lalu amalkan! Dan waspadalah terhadap provokasi kepentingan sesaat ! Itu saja!”

Mendengar nasehat singkat itu, tanpa saya sadari, saya melayangkan pandangan ke wajah-wajah jernih berwibawa di sekeliling saya. Semuanya mengangguk lembut seolah-olah meyakinkan saya bahwa nasehat Hadlratussyeikh itu tidaklah sesederhana yang saya duga.

“Dan belajarlah berbeda pendapat!” seru sebuah suara yang ternyata suara Kiai Abdul Wahid Hasyim. “Berbeda pendapat dengan saudara adalah wajar. Yang tidak wajar dan sangat kekanak-kanakan adalah jika perbedaan pendapat menyebabkan permusuhan di antara sesama saudara.” Sekali lagi semuanya mengangguk-angguk lembut.

Saya tidak bisa dan tidak ingin lagi meneruskan wawancara. Saya hanya menunggu. Ingin lebih banyak lagi mendengar nasehat. Tapi yang saya dengar kemudian adalah ayat Al-Quran yang dibaca dengan khusyuk oleh –masya Allah!- Kiai Abdul Wahab Hasbullah: “Washbir nafsaka ma’alladziena yad’uuna Rabbahum bilghadaati wal ‘asyiyyi yurieduuna wajhaHu walaa ta’du ‘ainaaka ‘anhum turiedu zienatal-hayaatid-dunya walaa tuthi’ man aghfalNaa qalbahu ‘an dzikriNaa wattaba’a hawaahu wakaana amruhu furuthaa.” (“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan petang hari mengharapkan keridhaanNya dan jangan palingkan kedua matamu dari mereka karena mengharapkan gemerlap kehidupan dunia ini dan jangan ikuti orang yang hatinya telah Kamilailakan dari mengingat Kami dan menuruti hawa nafsunya serta adalah keadaannya melampaui batas.”)

Dan dengan berakhirnya bacaan ayat 28 Al-Kahfi itu, saya tak mendengar apa-apa lagi kecuali dzikir dan dzikir yang gemuruhnya serasa hendak mengoyak langit.

December 26, 2005

Ketika PKB disorot......

MEMBELA YANG BENAR
27 Desember 2005 00:24:43

Oleh: A. Mustofa Bisri

Petinggi-petinggi berbagai partai besar seperti Golkar dan PDIP bukan saja sudah mulai melakukan langkah-langkah koordinasi, tapi bahkan sudah saling unjuk gigi. Siap bertarung dan memenangi pemilu 2009. Demikian pula PKS, PAN, Partai Demokrat, dan bahkan PPP sudah pula pada berbenah menyongsong pemilu yang masih –atau tinggal— 4 tahun lagi.

Yang kelihatan paling pede –atau cuek saja-- menghadapi pemilu yang akan datang adalah petinggi-petinggi PKB. Mungkin ingin konsekwen dengan motto partai mereka “Membela yang benar”, maka sampai entah kapan mereka masih terus sibuk dan asyik berebut kebenaran di antara mereka. Bahkan kali ini agak keterlaluan. Seolah-olah mereka –para tokoh pemimpin partai berlambang mirip NU ini—terlepas dari masalah negeri mereka dan sekaligus umat mereka sendiri. Kali ini tidak lagi ikhtilaaful a-immah rahmah, tapi sudah niqmah.

Para tokoh pemimpin itu dengan semangat juang mirip mereka yang membela Islam, melakukan manuver-manuver dan trik-trik terhadap sesama mereka sendiri. Masing-masing seperti hendak pamer kepada khalayak bangsa bagaimana semestinya membela prinsip kebenaran sendiri. Membela kebenaran adalah prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena masing-masinglah yang benar, maka masing-masing mesti membela dirinya hingga titik darah penghabisan. Bila warga bingung, itu adalah disebabkan kurang memahami prinsip ini. Jika pun nantinya warga pada berlari meninggalkan partai, itu adalah resiko perjuangan dalam rangka “membela yang benar”.

Agaknya bagi masing-masing mereka --para tokoh pemimpin partai yang kini berseberangan-- urusan warga dan umat adalah masalah kecil. Warga dan umat pusing sedikit apalah artinya dibanding perjuangan luhur dan suci membela kebenaran sendiri. Nanti setelah “kemenangan” diraih, warga dan umat yang taat-taat itu pun akan segera mengerti makna ‘membela yang benar” itu. Setelah pusing hilang, warga dan umat pun akan segera kembali ke shaf di belakang mereka, ma’muuman liLlahi ta’alaa.

Mereka –para tokoh pemimpin partai yang bertikai itu—lupa bahwa kekuatan partai mereka ada pada mereka. Bukan pada setengah mereka! Dengan setengah mereka, berarti mereka hanya punya setengah partai. Melihat semangat –atau bahasa halusnya: ngotot—mereka membela kebenaran diri masing-masing, rupanya masing-masing mereka memang sudah bertekad akan meneruskan ‘perjuangan’ mereka apa pun resikonya. Agaknya bagi masing-masing mereka, ini bukan sekedar masalah siasah, bukan sekedar pilihan antara yang baik dan yang lebih baik; tapi sudah akidah, pilihan antara yang haq dan yang bathil. Lebih baik setengah tapi “benar” daripada satu tapi “setengah benar. Mungkin demikianlah pikir mereka.

Saya jadi bertanya-tanya, bagaimanakah sebenarnya mereka –para tokoh pemimpin partai yang umumnya kiai itu— memandang warga dan umat pendukung partai mereka? Apakah seperti pandangan umum kebanyakan pemimpin partai lain: sekedar obyek untuk ditarik kesana-kemari bilamana perlu? Ataukah seperti pengakuan yang sering mereka lontarkan: warga dan umat adalah pemilik partai sejati yang harus mereka ayomi dan layani?

Dalam kondisi pertikaian yang sudah memuncak antara dua gajah, pelanduk terancam mati di tengah. Nah, sebagai orang yang setiap hari dikeluh-kesahi oleh warga partai mereka, perkenankanlah saya memohon kepada mereka –gajah-gajah itu--: berilah sedikit ruang dalam hati Anda untuk warga dan umat Anda sendiri. Kasihanilah mereka!
Bertemulah Sampeyan, Gus Dur, dengan para Kiai! Bertemulah, para Kiai, dengan Gus Dur! Lupakan sementara ‘akidah kebenaran’ Anda masing-masing demi mereka! Saya yakin, hanya dengan melihat Anda bertemu saja –apalagi sampai berangkulan seperti dahulu kala—warga dan umat Anda sudah akan melakukan sujud syukur.

Apabila keyakinan Anda akan kebenaran sendiri sedemikian agung, sehingga masing-masing terhadap yang lain tidak sudi berkompromi; bagaimana jika masalahnya diserahkan saja kepada warga dan umat. Masing-masing Anda tinggal menunjuk beberapa orang untuk menjadi panitia bersama yang ditugasi mengumpulkan mereka dalam satu muktamar istimewa. Muktamar yang satu, yang utuh, yang ikhlas, yang disengkuyung semua pihak. Muktamar yang diharapkan dapat menghentikan tradisi perkelahian terbuka yang sungguh mengganggu rasa muru-ah kaum santri dan membuat risi yang lain.

Sebagai orang yang tidak berkepentingan langsung dengan PKB, saya –dan insya Allah bangsa ini juga-- akan bersyukur, bila partai ini kembali utuh dan dapat kembali ikut dengan optimal mendarma-baktikan diri untuk negeri yang masih banyak masalah ini. In uriidu illal ishlaah mastatha’tu; wamaa taufiiqii illa biLlah. Saya hanya ingin berbuat baik semampu saya. Taufiq dan hidayah hanya pada Allah.

===========

bener Gus...saya benci permusuhan di PKB....
saya simpatisan PKB karena Gusdur
tetapi lebih memilih PKS untuk memimpin bangsa....
dan lebih condong ke Golkar untuk memenej Ekonomi.....

Ontran-ontran yang ada di PKB PKB seharusnya disadar i bahwa santri dan orang kecil seperti saya ini yang simpatisan PKB sangat sedih.

Mbok yao.....
PKB dipimpin Gusmuh saja....

December 19, 2005

Life is Emphaty

Ngga tahu kenapa hari ini gw ingat kedua orang tua gw...
yang membesarkan gw...
yang memberi gw makan...
yang memberi gw minum..

gw mengingat-ingat...
apa sih yang udah gw berikan ke mereka...
apa sih yang udah gw kasih ke mereka...

jawabannya...none.....

life is emphaty...

gw empati sama pengamen jalanan
gw empati sama pengemis dipinggir jalan...

tapi apa gw udah empati sama orang tua gw...???

jawabannya....none.....

so....

gw sedih ....
mengingat apa yang sudah gw berikan buat orang tua gw...

life is emphaty when you've done all of your life...

Bapakku sudah tua

Bapak yang kusayangi,

bapak sudah tua...
hitam rambut bapak sudah berubah putih..
lengan bapak sudah dimakan kerut-kerut tua....

Bapak yang kucintai,

tak kuat hati ini menahan sedih
tak kuat hati ini menahan tangis
tak kuat hati ini menahan pilu...

istirahatlah pak..sejenak...
berliburlah dari duniawimu....
tengoklah cucu-cucumu....
kami menunggumu...

Bapak yang kukasihi,

hati ini lelah menunggu bapak pulang...
menengok diriku...
menengok ibu...
menengok saudara-saudaraku...
walau sejenak...

Bapak....

keringatmu adalah wewangian bagiku..
airmatamu adalah tangis bahagiaku
lelahmu adalah kekuatanku...
tertawamu adalah tangis bagiku...

Jika sampai waktunya....

bagiku...

antar aku ke rumah terakhir jasadku...

bagimu....

kudoakan untukmu sepanjang waktu
sampai hayat mengambil jasadku....

untuk kita sekeluarga disisi Tuhan YME

Amin....

Bu....Maafkan anakmu ini

Ibuku yang baik ...

maafkan anakmu ini..
yang tahu malu...
tak pernah menengokmu..
tak pernah menelponmu
tak pernah menyapamu...
walau 1 menit saja...

Ibuku yang melahirkan ku....

maafkan anakmu ini...
tak pernah tersenyum padamu
tak pernah mengecup tanganmu
tak pernah disampingmu saat sedihmu

Ibuku yang kusayangi....

maafkan anakmu ini...
tak pernah memberimu sesuatu
tak pernah mengucapkan ulang tahun
tak pernah berbicara halus padamu...

ibuku....
maafkan anakmu .....
yang sedang menunggu kematian ini...
relakan aku atas dosa-dosaku
agar tenang hatiku menjemput matiku ini....

Pemimpin/Jabatan/Kepemimpinan menurut GusMus dan Saya

1. Jabatan dan kekuasaan menurut saya adalah AMANAT dan TANGGUNG JAWAB.

2. Kepemimpinan bagi saya adalah PELAYANAN dan KETELADANAN

3. Pemimpin yang baik adalah yang MEMIMPIN bukan DIPIMPIN

GusMus

Menurut saya

1. Jabatan adalah Sidratul Muntaha...jembatan keSurga
Jika lolos mendapatkan surga
2. Kepemimpinan yang baik adalah Keikhlasan...
Jika bisa memimpin maka ridho dan ikhlas yang kita dapat dari orang yang dipimpin
3. Pemimpin yang baik adalah Iblis...
Jika kita merasa menjadi pemimpin maka kita iblis....

December 12, 2005

Gus Mus Makan pakai apa Gus ????


Gus Mus yang kusayangi...

telah lama aku menunggu kabarmu Gus....
menunggu akan karya nyatamu ditengah-tengah rakyat ini...
hingga hati ini bosan menunggu Gus....


Gus Mus yang baik hati...

pemimpin kita rakus Gus...
Saya bingung memikirkan sebenarnya mereka makan apa Gus...
Gus Mus tahu ngga Gus ???


Gus Mus yang sejuk....

hati ini teriris Gus...
karena seorang ibu ..tetangga saya menjadi pembantu dengan gaji 200 ribu Gus...
sementara anaknya 3 orang....dia makan pakai apa ya Gus


Gus Mus yang kucintai...

meski teriris Gus....
ibu itu tetap tegar Gus...
"saya ingin anak-anak saya sekolah" ....katanya..
meski untuk itu saya harus bekerja mencuci dan menyeterika..dari jam 1/2 7 pagi
hingga pukul 8 malam...di tiga tempat...


Gus Mus...

hati ini sedih Gus....

Ketika Indon ketiban sial

Grrrrrrrrr.....seperti cicak didinding....dapet..ngga...dapet...ngga...dapet...ngga...
Udah berminggu-minggu saya berharap sesuatu yang ngga jelas juntrungannya....emang dasar indon....^&^%&^$%...bego...gampang dikibulin....begitu umpatan yang keluar dari dalam lubuk hati....

begini sejarahnya kenapa orang indon ini begitu gundah

email 1 :
-----Original Message-----
From:
P**** G**** [mailto:**********@yahoo.com]
Sent: 30 Oktober 2005 0:01
To: Jarod Dwi Harto
Subject: RE: Need Partner Company 3 Web Sites A Week Off-Shored Development To Indonesia


Jarod,

Good to meet you.  The first prototype web site where
I need a mock up is http://***paint.com .  This comes
from our sales source and it is a us painting company
where the site they have is terrible and our sales guy
is going to sell them the idea for the mock-up.  Can
you give me an example few pages of what you would do
to this bogpaint.com site; if it is good and can be
presented w/o many corrections we'll pay $200 for the
prototype this will be a start and there will be more.
Please make it good and professional.  You'll see the
one they have is not good.  Then we'll get back to you
to if bigpaint.com sells and you'll need to finish it
off and we'll pay you for that too.  Does that sound reasonable?  Can we do this in the next few days?  I'm behind in getting back to them on doing these small sites.

Regards.

Perry

* * *

P**** ****
VP Engineering
******@****.har****.edu
http://harvard****.com
http://harvard****.org



Berbunga-bunga khan hati lo terima ini...otomatis gw kerjain dong selama seminggu....dan inilah jawabannya...

email 2 :
From: P**** G**** [mailto:**********@yahoo.com]
Sent: 04 Nopember 2005 12:05
To: JarOD
Cc: Jarod Dwi Harto
Subject: Re: mock up design and 3 alternative design


Excellent Jarod.  Let me see what the Sales guy Mark
has to say and get back to you.  Thank you for getting
this started.

Regards.

P****

--- JarOD <jarod_hj_harto@yahoo.com> wrote:

> Hi
>
> If you have any further question regarding to the
> mock
> up design and alternative designs don't hesitate to
> contact me from my mobile number.
>
>
> Regards,
>
> Jarod
>
> Mobile # : +62812-8159248
> Mobile # : +6221-70657395
>


Dan...setelah sebulan lebih...inilah hasilnya...&*^*($^*$(*$^

email 3 :

From: P**** G**** [mailto:**********@yahoo.com]
Sent: 02 Desember 2005 22:35
To: JarOD
Cc: Jarod Dwi Harto
Subject: Re: [Payment] Mock up Design and 3 Alternative Design


So looks like next Mon. Jarod is it.  I'm setting this
up as a biz so we have to get the money flowing from
the source for this to work.  Sounds like Mon. and we
have the go and will proceed.  Immediately when I get
the check I'll get it to you.  The following is what
Mark sent to me yesterday.

Perry

"Sorry P*****,

I'm near the end of the campaign and ridiculously busy
right now. I
still
need to meet with the business owner. I'll be ready to
devote the time
required to this after the start of the new campaign.
Let's shoot for
12/1205 to finalize everything...

Sincerely,

M****"

--- JarOD <jarod_hj_harto@yahoo.com> wrote:

> OK,
> thanks for your reply.
>
> Could you send me the money by this week ?
> So i can make sure that you are very serious working
> with me.
>
>
> Rgds,
>
> jarod

Makanya...hati-hati bisnis dengan bule kaga jelas.....

tapi dalem hati sih tetep berharap gw tetep dibayar...

December 11, 2005

Globalization --> Hijacked by Indonesians!!!!!

email ini sering saya terima....
tapi baru kali ini ngeh sengeh-ngehnya kalo bangsa Indonesia disebut..sebut...:)
mungkin ini cerminan kita diluar ngkali ya...hehehe...pake nanya
=====


Question: What is the perfect example of
Globalization?

Answer: Princess Diana's death.

Question: How come?

Answer:

   An English princess
   with an Egyptian boyfriend
   crashes in a French tunnel,
   riding in a German car
   with a Dutch engine,
   driven by a Belgian who was drunk
   on Scottish whiskey,
   followed closely by Italian Paparazzi,
   on Japanese motorcycles,
   treated by an American doctor,
   using Brazilian medicines!
   And this is originally sent to you by an
Armenian,
   using Bill   Gates' technology,

   and you're probably reading this on one of the
IBM clones,

   that use Taiwanese-made chips,

   and a Korean-made monitor,

   assembled by Bangladeshi workers

   in a Singapore plant,

   transported by lorries driven by Indians,

   hijacked by Indonesians,

   unloaded by Sicilian longshoremen,

   trucked by Mexican illegals,

   and finally sold to you.

   That, my friend, is Globalization!

GusMus.NET

Link: GusMus.NET.

dari GusMus.....sang hamba yang disayangi Allah..

============

Aku Masih Sangat Hafal Nyanyian Itu

Oleh: A. Mustofa Bisri

Aku masih sangat hafal nyanyian itu
Nyanyian kesayangan dan hafalan kita bersama
Sejak kita di sekolah rakyat
Kita berebut lebih dulu menyanyikannya
Ketika anak-anak disuruh
Menyanyi di depan klas satu-persatu
Aku masih ingat betapa kita gembira
Saat guru kita mengajak menyanyikan lagu itu
bersama-sama

Sudah lama sekali
Pergaulan sudah tidak seakrab dulu
Masing-masing sudah terseret kepentingannya sendiri
Atau tersihir pesona dunia
Dan kau kini entah dimana
Tapi aku masih sangat hafal nyanyian itu, sayang
Hari ini ingin sekali aku menyanyikannya kembali
Bersamamu

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa
Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Aku merindukan rasa haru dan iba
Di tengah kobaran kebencian dan dendam
Serta maraknya rasa tega
Hingga kini ada saja yang mengubah lirik lagu
Kesayangan kita itu
Dan menyanyikannya dengan nada sendu

Indonesia tanah air kita
Bahagia menjadi nestapa
Indonesia kini tiba-tiba
Selalu dihina-hina bangsa
Disana banyak orang lupa
Dibuai kepentingan dunia
Tempat bertarung merebut kuasa
Sampai entah kapan akhirnya

Sayang, dimanakah kini kau
Mungkinkah kita bisa menyanyi bersama lagi
Lagu kesayangan kita itu
Dengan akrab seperti dulu

Rembang, 2000

 

December 08, 2005

Mobilku Hanya Titipan Nya

dari Ita ....

#####
bagus deh,rod...sori ya kalo elo udah pernah dapet
email ini...

--------------------------------------------------------------

PUISI INDAH DARI RENDRA

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji
milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
Bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku
hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya
Tetapi, mengapa aku tidak pernah bertanya, mengapa
Dia menitipkan
padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan
untuk milik Nya
ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yg bukan
milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan
itu diminta kembali
oleh Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai
musibah, kusebut itu
sebagai ujian,kusebut itu sebagai petaka, kusebut
dengan panggilan
apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yg cocok dengan
hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan.

Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan
seperti matematika:
"aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita
menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan
kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku" dan
menolak keputusan Nya
yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan
matiku
hanyalah untuk beribadah...
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan
keberuntungan
sama saja"

WS Rendra

detikHot - Eminem Kembali ke Pelukan Mantan Istri

Link: detikHot - Eminem Kembali ke Pelukan Mantan Istri.

Apa nda malu ya bocah ki....???
moso mbalek karo bojo lawas..koyo 'ra ene liane wae ??

yanglagibosenbacaberitaserius....

December 06, 2005

First Blogg

"First Blogg"

Kalo First Blood digawangi oleh Sylvester Stallone maka First Blogg digawangi oleh saya sendiri..:))..."koyo kiper cak...digawangi..."

Blog ini dibuat karena penasaran setiap hari terima email dari friendster bersubject bliblibli has updated his Friendster Blog ato blablabla has updated her Friendster Blog.

Saking penasarannya apa sih asiknya post di blog maka pagi ini dalam waktu 2 jam yang melelahkan.....simsalabim akhirnya blog ini jadi...

semoga bisa jadi sumber inspirasi buat sby memimpin negara...."opo sehhh karepe"..

First Day Teaching

Hari ini temen baek gw mengajar pertama kalo di tempat kursus ditempatnya yang ndusun...:p.
jauh dari kota jakarta nan indah dan sejuk ini.

Gw heran dia bisa bertahan disana dan melepas semua fasilitas dan udara sejuk dijakarta ini.
Apa sih yang elo cari disanaaaa?????

jadi ngiri dah gw...